Monday, December 10, 2012
The Adiningrat
(picture of Mangkoeningrat's family, August 15th 1958)
it's been 8 years since my granpa passed away
and here's a simple story about a simple old man
Rasanya baru kemarin saya keluar dari ruangan High Care Unit Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan pandangan kosong, badan sedikit melayang dan perlahan menitikkan air mata. Eyang pameget (pameget berarti pria dalam bahasa Sunda halus, red) di hadapan saya, mama, dan dua orang kakak perempuan mama menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelumnya dalam keadaan satu bulan koma. Saya masih ingat betul karena itu adalah kali pertama saya menyaksikan kematian yang terjadi di depan mata kepala saya sendiri. Some people said that facing death are the most frightening and the most painful experience you will ever ever face. Tapi buat saya sepertinya hal itu tidak terjadi pada eyang. Hingga tekanan darahnya terus drop dan kami (saya, mama dan dua kakak perempuan mama) memaksa masuk untuk meneriakkan talqin (dalam Islam meneriakkan nama Allah kepada seorang yang sedang sekarat, diyakini agar seorang yang sekarat menyebut nama Allah di akhir nyawanya), i believe he rest in peace.
Kakek saya, Rd. Moch. Dudun Adiningrat adalah anak ke-4 dari 17 bersaudara di keluarga besar Rd. Mangkoeningrat di Bondongan, Bogor (ini artinya mama memang turunan Sunda asli). Tercatat lahir pada tanggal 19 Juli 1920 (nyatanya mama bercerita bahwa sebenarnya eyang lahir pada 19 Desember 1919, hanya untuk masuk sekolah pada waktu itu, akte kelahirannya ditulis ulang). Kisah masa kecil eyang, saya kurang tahu, eyang tidak bercerita banyak tentang masa kecilnya. Saya tidak bisa bayangkan memiliki 16 saudara lainnya bagaimana mereka hidup (masih) di jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sekolah di MULO dan kemudian melanjutkan di pendidikan kesehatan, dari sini saya tahu cerita bagaimana eyang pameget bertemu eyang istri (istri artinya perempuan dalam bahasa Sunda halus) yang mana eyang istri adalah putri pertama dari seorang dokter hewan di Bogor.
Banyak kisah yang diceritakan berkali-kali tentang eyang di jaman perang dulu, saya masih ingat satu per satu, bagaimana eyang selamat dari sebuah peluru yang nyaris bersarang di kepalanya, penyamaran sebagai tukang sayur pada saat Long-March dimana eyang harus berpura-pura compang camping padahal sebenarnya eyang berperawakan tinggi dan terbilang sangat putih dan tampan. I'm not gonna tell you cause it's a long long looong story you might get bored. Dari lahir sampai kurang lebih kelas 3 SD, papa mama saya juga adik saya tinggal di rumah eyang di Bandung. Rumah tentara yang cukup besar untuk menampung 10 orang. Jadi, dari kecil ketika mama dan papa bekerja, waktu-waktu saya dan adik saya dihabiskan bersama eyang. Eyang selalu merekam kartun-kartun Disney ke dalam video kaset BETA (ini epic ! kalian yang lahir tahun 80an pasti tahu) dan memutarnya kembali untuk ditonton saya dan adik saya. Eyang juga suka sekali menggambar, in fact, beliau adalah seniman terhebat dalam hidup saya ! Saya ingat mama bercerita jika dulu, guru sekolahnya hampir memberi angka 11 di report menggambar eyang. Salah satu kesukaan saya adalah eyang menggambar foto ibunya (buyut saya) menggunakan soft pastel dan dibuatnya dari titik-titik warna, sayang saya tidak bisa mencantumkan fotonya disini. Tapi kecintaan saya akan karya eyang adalah satu lukisan bunga Alamanda yang dibuatnya sekitar tahun 1965. Satu pesan eyang pada mama, "Tin, kalau papi sudah tidak ada nanti, lukisan ini buat Wulan, karena namanya Alamanda...". Dan lukisan eyang masih saya simpan dan akan saya simpan sampai mati.
This old man, in my memory, and i'm sure in every person that know him, eyang itu sosok yang sangat sederhana, murah senyum, jujur, rapi, dan terlebih sangat sabar. Eyang istri (alm.) dalam ceritanya selalu mengatakan bahwa eyang pameget dalam hampir 60 tahun pernikahannya tidak pernah sekalipun mengeluarkan nada tinggi, dan romantically, mereka selalu berpegangan tangan setiap malam diwaktu tidur. Saya masih bisa dengan jelas picture him berjalan dengan langkah agak terseret menuju meja makan, duduk dengan agak miring, mengambil merica untuk dimakan dengan sup dan memiringkan mangkuk sup agar dengan mudah menyendok sup hingga suapan terakhir, lalu tersenyum, "supnya enak, Tin.." (kepada mama).
Ketika saya diterima masuk Fakultas Seni Rupa dan Design di Institut Teknologi Bandung, waktu itu eyang sudah tidak ada. Saya ingat saya bermimpi eyang datang melihat saya membuat tugas-tugas dan hanya tersenyum. I'm sure he's proud. Dan ketika sekarang saya sudah lulus, bekerja di Jakarta, pindah rumah (rumah eyang juga telah dikembalikan kepada Angkatan Darat), terkadang kenangan tentang eyang masih jelas tergambar. Bagaimana eyang mengantarkan saya ke Taman Kanak-Kanak sambil berjalan, mengantarkan saya ke Sekolah Al-Quran di sore hari, merestorasi gambar-gambarnya, membacakan komik Asterix, memberikan saya perangko-perangko Belanda ketika saya hobby filatelli... as far as i can remember, it was nothing but a beautiful memories...
Lama saya tidak berziarah ke makam eyang, makam rapi berumput hijau dengan tanda jasa di Taman Makam Pahlawan Bandung. Soon i'll visit it. Karena untuk orang-orang yang saya cintai, tanah, alam, kematian, bukan pemutus doa. Ah, how i miss you eyang....
Sunday, August 29, 2010
meet Seringai, it rrrrrrrawks !!!!

okay buat yg ga tau SERINGAI, gw cuma bisa bilang, "f*ck ! lo denger apa sih selama ini ?", ini adalah list band yang wajib didenger banget ! Band rock - metal paling keren di Indonesia kl gw bilang. Kenapa gw bilang ini band yang wajib didenger ? Okay first thing first, semua bakal kembali ke personil dari band itu kan ? Siapa yang gak tau Arian13, Khemod, Ricky dan Sammy ? Man, you should get a brainwash..... Yang membuat gw mendengarkan sebuah band adalah jelas karena band itu punya "isi", band yang ada "otak". Mereka punya pengetahuan yang tinggi dalam membuat sebuah musik. And SERINGAI represent it all.
Kalau kalian pernah liat film Global Metal, kalian pasti tau kl Arian adalah orang Indonesia yang diwawancara disana mengenai perkambangan musik metal dan rock di Indonesia saat ini, you name it ada berapa banyak sih band metal rock yang ada di Indonesia ? SERINGAI patut disejajarkan dengan band metal dan rock senior Indonesia. Gimana ngga, personil-personilnya emang bukan orang sembarangan. Jelas mereka adalah orang yang berangkat dari background yang memang tau benar akan asal usul metal dan rock, dan tau benar perkembangannya di dunia. A band with Brain.

Gw sendiri bukan orang yang tau banyak soal asal usul metal, rock, dan musik-musik sejenisnya. Tapi yang jelas gw bukan poser yang berdandan metal dan rock tanpa tau apa yang gw denger. Kerennya nih our music is in our blood, our brain and in our hearts. Kenapa gw denger SERINGAI adalah karena mereka jelas bisa menyampaikan kritik sosial dan kejadian sehari-hari lewat lirik yang menurut gw sangat mengigit dan disajikan dengan musikalitas tinggi, bukan hanya sekedar headbang. Gw sendiri lulusan seni rupa dan desain, kebebasan dalam mengekspresikan sesuatu disertai pertanggung jawaban itu mutlak buat gw. Bukan berarti kita gak bisa having fun on it, just enjot it while you can.
SERINGAI mengeluarkan DVD berjudul Generasi Menolak Tua, apa isinya ? Sedikit bocoran karena emang harus liat sendiri sih. DVD ini berisi tentang perjalanan sebuah band pada layaknya, tapi gw bisa liat segimana mereka benar-benar menikmati bermain musik. Gimana akhirnya mereka bisa bikin album pertama ? Itu karena Arian akhirnya dapet fee proyek. Gimana SERIGALA (sebutan untuk fans SERINGAI,red) ketika mereka manggung. Beberapa cuplikan video SERINGAI juga bisa dilihat disini. Layaknya kita lihat DVD Iron Maiden atau Global Metal atau Seven Ages of Rock, DVD ini gw rasa haus masuk list : "you must have"



Well.. Gak ada lagi yang bisa ceritain karena harus liat sendiri, tapi kalau boleh mengutip sebuah kalimat SERINGAI, "Menjadi tua itu pilihan, yang muda yang berbahaya !"
Saturday, August 28, 2010
meet Po Ka Tiam
Friday, August 27, 2010
letter to fella
hey fella !
do you see changes ?
everything in you life goes round and round and keep going on
can't you see it ?
that in the end we're all standing all alone
we rule our world by ourselves
with our mind and our hearts
it is you who made yourself fall and suffered
i made my self fall, but it didn't make me fail
i did, do you ?
do you see changes ?
everything in you life goes round and round and keep going on
can't you see it ?
that in the end we're all standing all alone
we rule our world by ourselves
with our mind and our hearts
it is you who made yourself fall and suffered
i made my self fall, but it didn't make me fail
i did, do you ?
Mas Pena - a story from Cigondewah
i would like you to meet Mas Pena - a story from Cigondewah
2 hari yang lalu sahabat saya Astrid minta anter keliling Bandung buat cari bahan
i mean it, rute rumah-Cigondewah-Cibaduyut-Pasar Baru Bandung bener-bener dijabanin
berhubung lagi bulan puasa, ya anggaplah ini ngabuburit nunggu buka
ni kurang lebih trayek saya sama Astrid, kl dijumlah 764359784365871243562154732654 KM deh

udah beberapa kali sebenernya saya ke Cigondewah, dan berkali-kali juga saya nyasar, this time kita ga mau nyasar dan berpegang pada Google Map, thank God ada teknologi canggih ini
and for those yang belum tau, Cigondewah itu kaya pusat jualan kain-kain kiloan dan grosir, umumnya sisa pabrik, dan kamu bisa dapet kain dengan harga sangat murah
sebelumnya Astrid pernah beli kain di sebuah toko, saya juga masih inget tokonya, di pojokan jalan, untungnya ketemu
ternyata tokonya bergeser 1 kios, keliatannya dari depan sih kecil, tp didalemnya, buset gede banget, ya...makanya don't ever judge a book by it's cover....
disini Astrid emang nyari beberapa kebutuhan kain untuk dibikin baju, dilayanin sama mas-mas, saya inget dulu juga dilayanin sama mas-mas ini, untungnya mas-masnya juga inget, jadi dia mencarikan kita kain yang kita mau
ngubek-ngubek cari kain di gudangnya yang besar banget, si mas-mas ini sambil ngoceh terus, menjelaskan jenis-jenis kain yang ada di situ, ya karena kita emang ada maunya, jadi diladenin aja, ni gudangnya yang bener-bener gede itu

see ? i mean it... itu di kirinya masih ada segede gitu juga, isinya kain kiloan semua, itu Astrid sama mas-mas yang bantuin nyari kain...
si mas-mas ini ngasih tau kapan tokonya tutup kali-kali kita mau balik lagi cari kain
dan dia nyariin Astrid kain yang dia mau sampe pindah 2 toko, lumayan, mesti jalan ga jauh juga, mas-masnya cerita dia pernah jatuh dari lantai 2 lorong toko kain yang kita kunjungi, serem amat mas.....
Kemudian Astrid nanya nama mas-masnya, seandainya kita balik lagi, biar sama si mas ini aj, abisnya dia cekatan, biar sedikit banyak ngoceh, mas-masnya bilang, "ah jangan neng, nama saya jelek..". "yah mas, masa nanti saya kesini cari mas jelek?", kata Astrid. Hahahaha ada-ada aja lo tyd...
"Nama saya Pena (baca:p'na)", kata mas-mas itu
"Nah kalo gitu kan enak, jadi saya ke sini tinggal nyari mas Pena..", sambung Astrid
Mas Pena terus ngoceh sambil nyariin kain, beberapa kali dia memanggil temannya untuk membantu dia ngambil kain, karena puasa jadi lemas katanya. Kemudian Mas Pena cerita, kalau dia pernah hampir bunuh diri (saya udah lirik-lirik aj sama Astrid, wah mulai curhat nih si mas)
Dia cerita hampir bunuh diri karena patah hati, katanya pas mau balikan, pacarnya gak mau, berhari-hari dia gak mau makan dan memutuskan untuk loncat dari lantai 3 (hwaduh)
Tapi kemudian dia cerita akhirnya gak jadi dan dia akhirnya pergi menemui pak Ustad. Pa Ustad sambungnya memberikan dia bacaan doa-doa, dan beberapa hari setelahnya dia gak kepikiran untuk bunuh diri, malah dia lupa sama mantannya, dan kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Dia bilang, "ah dipikir-pikir, buat apa ya neng saya sampe mau bunuh diri gitu ? mending saya biasa aja lagi kaya gini...".
"Hehehehe, mas Pena ini lugu banget,", dalam hati saya.
Mas Pena nanya buat apa kita beli kain sebanyak ini, apa buat tugas ? Ya Astrid menjelaskan kalo dulu sih buat tugas kuliah, sekarang sudah lulus.
Lalu mas Pena bilang, "saya sih neng, SD aja gak lulus.....saya takut disuruh ulangan soalnya...jadi saya cuma sekolah sampe kelas 3...hiiii~ saya takuuuttt banget disuruh ulangan, kalau bisa sih neng saya langsung SMP atau SMA aja..", katanya lugu
Mas Pena...Mas Pena....begitu naifnya dia bercerita tentang hidup dia sama saya dan Astrid....
Tapi disaat itu saya sama Astrid terenyuh, kadang-kadang kita semua begitu putus asanya sama hidup, banyak mengeluh tentang susahnya kuliah dulu, mengeluh telat dijemput, mengeluh banyak masalah, mengeluh ga punya uang, banyaaaaaaakkk banget, semua mengeluh
Di sisi lain, ada mas Pena, cuma (maaf) buruh di Cigondewah, gajinya mungkin gak seberapa, dibanding kita yang lulusan Universitas besar dia SD aja gak lulus...
Tapi dia bisa mensyukuri hidupnya, pernah jatuh sekali buat dia bukan berarti dia gak bisa bangun lagi.... Banyak diantara kita suka lupa akan hal-hal dasar seperti bersyukur....
Beruntunglah mas Pena, gak pinter bukan berarti dia kehilangan akal dan nuraninya....
Dan beruntunglah saya dan Astrid, bertemu orang seperti mas Pena untuk mengingatkan betapa kita harus banyak bersyukur....
2 hari yang lalu sahabat saya Astrid minta anter keliling Bandung buat cari bahan
i mean it, rute rumah-Cigondewah-Cibaduyut-Pasar Baru Bandung bener-bener dijabanin
berhubung lagi bulan puasa, ya anggaplah ini ngabuburit nunggu buka
ni kurang lebih trayek saya sama Astrid, kl dijumlah 764359784365871243562154732654 KM deh

udah beberapa kali sebenernya saya ke Cigondewah, dan berkali-kali juga saya nyasar, this time kita ga mau nyasar dan berpegang pada Google Map, thank God ada teknologi canggih ini
and for those yang belum tau, Cigondewah itu kaya pusat jualan kain-kain kiloan dan grosir, umumnya sisa pabrik, dan kamu bisa dapet kain dengan harga sangat murah
sebelumnya Astrid pernah beli kain di sebuah toko, saya juga masih inget tokonya, di pojokan jalan, untungnya ketemu
ternyata tokonya bergeser 1 kios, keliatannya dari depan sih kecil, tp didalemnya, buset gede banget, ya...makanya don't ever judge a book by it's cover....
disini Astrid emang nyari beberapa kebutuhan kain untuk dibikin baju, dilayanin sama mas-mas, saya inget dulu juga dilayanin sama mas-mas ini, untungnya mas-masnya juga inget, jadi dia mencarikan kita kain yang kita mau
ngubek-ngubek cari kain di gudangnya yang besar banget, si mas-mas ini sambil ngoceh terus, menjelaskan jenis-jenis kain yang ada di situ, ya karena kita emang ada maunya, jadi diladenin aja, ni gudangnya yang bener-bener gede itu

see ? i mean it... itu di kirinya masih ada segede gitu juga, isinya kain kiloan semua, itu Astrid sama mas-mas yang bantuin nyari kain...
si mas-mas ini ngasih tau kapan tokonya tutup kali-kali kita mau balik lagi cari kain
dan dia nyariin Astrid kain yang dia mau sampe pindah 2 toko, lumayan, mesti jalan ga jauh juga, mas-masnya cerita dia pernah jatuh dari lantai 2 lorong toko kain yang kita kunjungi, serem amat mas.....
Kemudian Astrid nanya nama mas-masnya, seandainya kita balik lagi, biar sama si mas ini aj, abisnya dia cekatan, biar sedikit banyak ngoceh, mas-masnya bilang, "ah jangan neng, nama saya jelek..". "yah mas, masa nanti saya kesini cari mas jelek?", kata Astrid. Hahahaha ada-ada aja lo tyd...
"Nama saya Pena (baca:p'na)", kata mas-mas itu
"Nah kalo gitu kan enak, jadi saya ke sini tinggal nyari mas Pena..", sambung Astrid
Mas Pena terus ngoceh sambil nyariin kain, beberapa kali dia memanggil temannya untuk membantu dia ngambil kain, karena puasa jadi lemas katanya. Kemudian Mas Pena cerita, kalau dia pernah hampir bunuh diri (saya udah lirik-lirik aj sama Astrid, wah mulai curhat nih si mas)
Dia cerita hampir bunuh diri karena patah hati, katanya pas mau balikan, pacarnya gak mau, berhari-hari dia gak mau makan dan memutuskan untuk loncat dari lantai 3 (hwaduh)
Tapi kemudian dia cerita akhirnya gak jadi dan dia akhirnya pergi menemui pak Ustad. Pa Ustad sambungnya memberikan dia bacaan doa-doa, dan beberapa hari setelahnya dia gak kepikiran untuk bunuh diri, malah dia lupa sama mantannya, dan kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Dia bilang, "ah dipikir-pikir, buat apa ya neng saya sampe mau bunuh diri gitu ? mending saya biasa aja lagi kaya gini...".
"Hehehehe, mas Pena ini lugu banget,", dalam hati saya.
Mas Pena nanya buat apa kita beli kain sebanyak ini, apa buat tugas ? Ya Astrid menjelaskan kalo dulu sih buat tugas kuliah, sekarang sudah lulus.
Lalu mas Pena bilang, "saya sih neng, SD aja gak lulus.....saya takut disuruh ulangan soalnya...jadi saya cuma sekolah sampe kelas 3...hiiii~ saya takuuuttt banget disuruh ulangan, kalau bisa sih neng saya langsung SMP atau SMA aja..", katanya lugu
Mas Pena...Mas Pena....begitu naifnya dia bercerita tentang hidup dia sama saya dan Astrid....
Tapi disaat itu saya sama Astrid terenyuh, kadang-kadang kita semua begitu putus asanya sama hidup, banyak mengeluh tentang susahnya kuliah dulu, mengeluh telat dijemput, mengeluh banyak masalah, mengeluh ga punya uang, banyaaaaaaakkk banget, semua mengeluh
Di sisi lain, ada mas Pena, cuma (maaf) buruh di Cigondewah, gajinya mungkin gak seberapa, dibanding kita yang lulusan Universitas besar dia SD aja gak lulus...
Tapi dia bisa mensyukuri hidupnya, pernah jatuh sekali buat dia bukan berarti dia gak bisa bangun lagi.... Banyak diantara kita suka lupa akan hal-hal dasar seperti bersyukur....
Beruntunglah mas Pena, gak pinter bukan berarti dia kehilangan akal dan nuraninya....
Dan beruntunglah saya dan Astrid, bertemu orang seperti mas Pena untuk mengingatkan betapa kita harus banyak bersyukur....
Saturday, July 3, 2010
The Final Assignment
Subscribe to:
Posts (Atom)









